Strategi Dan Taktik Dalam Sepak Bola

  • July 23, 2020

Solusi standar dari masalah ini biasanya dengan membuat fullback buat naik bergantian. Jika satu fullback naik, maka fullback yang lain tetap di belakang, untuk menjaga agar tidak kurang dari 3 pemain yang berada di lini belakang.

2 pemain ini adalah kunci untuk mendapatkan area sirkulasi bola yang lebih luas. Dengan kita mempunyai 2 pemain yang berada dalam half space, sekarang anda memiliki akses umpan kepada ataupun dari fullback oleh jarak yang tidak terlampau jauh, sehingga kita bisa memastikan akurasinya akan amat prima. Oleh karena tersebut artikel ini akan adulacion mengupas formasi beserta trik mengeksekusinya dan sejauh dimana sistem ini akan dapat bersaing di sepakbola modern. Jika kita cukup mujur, mungkin juga kita bisa menemukan formula yang jauh cocok untuk sepakbola lokal, yang di dekade ini kualitasnya terus merosot, bersamaan dengan mulai masifnya pemakaian skema empat bek. Sebagai dedengkot sepakbola modern, Schwung Guardiola sejak musim lalu di Bayern Munchen juga mulai gemar untuk bereksperimen dengan formasi tiga bek dan segala jenis variannya.

Di beberapa momen hal ini sukses, dalam momen yang lain ternyata tidak. Perlu stamina luar biasa bagi sang gelandang untuk terus bisa bergerak menyamping membantu winger, namun sayangnya kala itu Indra Sjafri hanya memiliki satu saja Zulfiandi.

Solusi terkait cukup bagus, karena ukuran serangan akan tetap sanggup mendapatkan solusi lebar lapangan ataupun overload di location flank, tapi juga masih mempunyai pemain lumayan pada belakang. Banyaknya tim dalam mengalami problem ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, hal ini karena lubang dalam fase transisi negatif merupakan bawaan alami dari sistem empat bek. Problem muncul dikarenakan eksekusi ideal dari sistem empat bek dalam fase menginfeksi adalah dengan mengijinkan tiap-tiapo fullback untuk melakukan overlap dengan merangsek naik ke depan. Bisa kita lihat jika bentuk tiga pemain di belakang seperti terkait bisa menghubungkan lebih banyak pemain untuk melakukan sirkulasi bola. Yang juga patut diperhatikan adalah posisi 2 pemain dalam sisi luar yang berposisi di halfspace (area masa flank dan tengah).

Tim yang memakai pendekatan ini memanfaatkan intimidasi kepada lawan oleh dari awal berinisiatif mendorong lebih banyak pemain untuk naik, sembari berharap lebih banyak juga pemain versus yang akan merespon oleh turun. Tentu saja jika semakin sedikit pemain lawan yang ada di hadapan, akan berkurang juga ancaman serangan balik. Oleh sebab itu, trik ini cukup digemari oleh tim yang mempunyai kualitas pemain depan dan sedang yang cukup baik. Indra Sjafri ketika menahkodai Timnas U19 juga memakai solusi tanpa fullback yang melakukan overlap untuk mendapatkan keseimbangan. Tapi dia tahu efek buruk yang akan didapatkan winger, sehingga memilih menggunakan satu gelandang yang maka akan bergerak ke flank buat membantunya.

Pada formasi ini, yg paling diandalkan adalah security dan selalu harus dalam kondisi siap untuk serangan balik. Ada 2 side bek yang bisa maju ketika melakukan serangan balik dengan 2 pemain dalam yang tugas utamanya seperti pemberi umpan terhadap concentrate on man. Meski memang suatu tim telah memiliki pemain-pemain yang begitu handal dan unggul, memilih formasi dalam kurang tepat bisa jadi berakibat buruk dan jadi kalah. Formasi yang ngakl sesuai dengan kondisi yang ada mampu memengaruhi kekalahan sebuah tim.

Untuk itulah, penting untuk mempelajari formasi sebelum mulai bermain dan menjadi pemain profesional. Pilihan yang lebih baik adalah dengan mampu memahami situasi pertandingan dan benar-benar bisa memanfaatkannya. Jangan sampai terlampau berfokus pada filosofi main, jangan sampai permainanmu malah justru mempermainkanmu. Karena mereka yang berfilosofi menyerang pun suatu saat mau tidak mau harus bermain bertahan penuh. Pun yang jauh senang dengan bermain damai lewat bermain bertahan, suatu saat mau tidak hendak mereka harus menyerang overall.

Satu-satunya kekurangan formasi 3 bek sekarang adalah formasi tersebut kalah populer daripada empat bek. Minimnya pemakai skema ini membuat perkembangannya bisa dibilang sangat lambat, atau mungkin lebih ke stagnan. Tidak banyak dalam melakukan variasi dan mengujinya di pertandingan kompetitif, dalam membuatnya menjadi terlihat tidak cocok untuk sepakbola contemporary.

Jayquan

E-mail : admin@remarkableapp.net

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*